Menunggu Bunda

“Bunda nanti jemput aku nggak,” tanya Satar, Kelas Langit, dengan air mata menggenang di pelupuk, dan hidung basah. Ini adalah pengalaman pertamanya bersekolah, jadi tak mengherankan bila Satar masih dihinggapi kecemasan berpisah.

Maka kepada Satar diberi kesempatan menekan bel pergantian jam pelajaran. “Kalau sudah enam kali, Bunda akan datang,” kata kami kepada Satar.

Dia pun menekan bel masuk. “Bunda nanti datang, nggak?” tanyanya.

“Nanti ya kalau Satar sudah lima kali lagi,” kata kami.

Tiga puluh menit kemudian, Satar menekan bel lagi. “Bunda nanti datang nggak?”

“Iya, kalau Satar sudah memencet bel empat kali lagi. Sekarang Satar main dulu ya di kelas?”

Dia menurut, dan larut dalam kegiatan di kelas. Bahkan dia lupa menekan bel yang ketiga, keempat dan kelima.

Pada giliran bel yang keenam, jam pulang, kami ingatkan dia untuk menekannya. “Nanti Bunda datang?”

Satar gembira melihat bundanya. Dia bercerita tentang bel, dan menyanyikan lagu Tetum. Sesungguhnya Satar senang bersekolah!

Ketika akan pulang, Satar berkata kepada bundanya, “Besok aku sekolah, Bunda di rumah aja!”

Kami lega, begitu pula bundanya. Sedikit demi sedikit, Satar sudah dapat mengikis kecemasannya.

Menunggu Bunda di gardu.

Satar menekan bel.

Berada di antara teman-temannya, Satar pun larut dalam situasi.

There are no comments on this post

Leave a Reply