Jalan-Jalan: Merasakan, mengalami, mengamati

img_0423.jpgimg_0370.jpgimg_0435.jpgimg_0451.jpg

Ada hal menarik dari kegiatan jalan-jalan ke lapangan dekat sekolah hari ini. Kami menyusuri gang yang hanya dapat dilewati motor, sampai akhirnya tiba di sehamparan lapangan tanah. Di dekat lapangan … ada sebuah TK di sebuah rumah bertingkat. Pada tembok di lantai atas terdapat spanduk yang sudah tidak terbaca, dan di depan rumah ada ayunan dan permainan-permainan dari besi. Di dekat ayunan berdiri beberapa ibu yang tampaknya tengah menunggu anak mereka.

Ketika kami tiba di lapangan, anak-anak di TK itu sedang berolahraga di teras, kemudian melanjutkannya dengan kegiatan menari. Setelah itu anak-anak itu berlari ke lapangan sambil membawa tas punggung. Kami pikir mereka sudah jam pulang, ternyata tidak. Anak-anak itu –berseragam baju olahraga warna pink tua seperti guru mereka– mungkin hanya memuaskan rasa ingin tahu terhadap kehadiran anak-anak berseragam olahraga putih kuning. Mereka berlari ke gawang tempat anak Tetum bermain bola, lalu tanpa ada yang mengkomando, berlari lagi ke arah tembok yang menjadi pintu belakang suatu rumah. Lalu lari kembali ke sekolah, bukan karena seorang guru mereka berkata, ”Jangan nanti kecampur!”, tapi ya rasa ingin tahu mereka mungkin sudah terpenuhi (atau untuk menunjukkan bahwa lapangan itu milik mereka?)

Di antara anak-anak Tetum, juga terjadi proses menarik. Mirza terus merengek minta bermain di ayunan depan sekolah itu, Aurora berkomentar mirip guru sekolah itu, “Ya Allah, Tuhan, jadi kecampur, deh.” Seorang anak mengucapkan komentar yang lugu, “Itu orang fakir miskin ya.”

Kejadian itu membuat kami berpikir untuk menggagas kegiatan bersama dengan sekolah itu. Akan sangat baik bagi anak-anak itu untuk memahami bahwa apa pun perbedaan mereka, mereka adalah sama dan bisa saling melengkapi.

Sekalipun kami sudah minta izin kepada kepala sekolah mereka untuk bermain lapangan, itu tidaklah cukup. Kami harus cukup peka bahwa mereka (guru sekolah itu) mempersepsi adanya “perbedaan sosial”. Sekalipun tugas untuk mengikis hal itu tidaklah ringan, kami akan berupaya ….

Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man
Imagine all the people
Sharing all the world

(“Imagine”, John Lennon)

5 Tanggapan

  1. Hmm… gimana kalo main bersama teman-teman dari Bestari???🙂 Kami senang lho, main dengan siapaaaa sajaaaa…. :)Es campur kan enak yaa??? :p

    Salam,

    _Bestari_
    http://www.tamanbestari.blogspot.com

  2. OK Bunda Bestari. Tinggal atur waktu ….

  3. iyah tuh kak……sekali-kali perlu berkunjung ke sekolah lain, biar anak ada wawasan lain di luar sekolah tetum…kayak acara di TV “Renovasi Sekolah” kan ada kunjungan sekolah-sekolah “tertentu” ke sekolah yang akan di renov. terus ada pembauran antara guru dan murid. misal. mengerjakan sesuatu Mis.nyusun puzel bareng2.Ok……….saya dukung deh.

  4. Reza senang sekali bermain dilapangan seperti hari itu, suatu pengalaman yang mungkin belum pernah dirasakannya. Tadinya saya agak bingung, ‘tour keliling sekolah’ ini mau kemana? Tapi dengar ceritanya Reza baru paham, dan senang juga anak-anak diajak mengenal lingkungan keliling sekolahnya, tidak hanya datang dan pergi lewat pintu sekolah🙂 Keep up the good works, Kakak-kakak!

  5. Terima kasih, Mama Reza! Untuk Mama Aurora, kami sudah melakukan di Sukabumi. Bener nih mau bantu:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: