Independensi Lia

img_0613.jpgimg_0616.jpgimg_0623.jpgimg_0624.jpgimg_0630.jpgimg_0627.jpg

Dengan lincah Lia naik ke dingklik di bawah wastafel. Badannya yang mungil memungkinkan ia dan sahabatnya, Naya, naik ke dingklik berdua. Mereka dengan terampil memutar keran dan menyikat gigi. Sikat gigi adalah kegiatan rutin setelah makan. Mereka telah melakukannya berulang-ulang sehingga tak heran mereka jadi terlatih.

Usai sikat gigi, Lia bermain di halaman. Dia merangkak dan menerobos ke dalam lingkaran ban diikuti Icha, teman sekelasnya. Dia protes ketika Naya duduk di ban terakhir sehingga dia tak bisa lewat. Naya menurut, dan Lia pun bebas bergerak lagi.

Setelah itu Lia mengikuti kegiatan kelas lagi. Di akhir sesi Kak Ami membagikan prakarya awan dengan untaian pelangi warna-warni yang sudah dibuat sebelumnya. Lia pun pulang dengan tangan melambaikan awan itu.

Aktivitas Lia menunjukkan independensi seorang anak. Independensi adalah dasar perkembangan kognitif, sosial dan emosional berikutnya. Berbeda dengan pandangan tradisional bahwa anak adalah lemah dan perlu ditolong, pada konsep independensi anak dipandang sebagai sosok yang penuh daya untuk mengeksplorasi keterampilan-keterampilan baru. Anak hanya dibantu dalam kondisi keamanan mengancam. Karena itulah perlu lingkungan yang mendukung perkembangan independensi anak. Dengan lingkungan yang aman, kita sebagai orang dewasa mendukung kemandirian anak dalam membuat keputusan di setiap langkahnya.

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: