Dinda, Motor dan Potret Sosial

img_0672.jpgIzzi(kiri) dan Dinda (kanan). 

img_0887-1.jpg Ritual Dinda

Setiap hari Dinda (Kelas Langit) datang dengan jaket jins, memakai tas punggung, dan menenteng helm. Sebelum masuk kelas, dia meletakkan helm pinknya di bibir kayu panggung boneka. Lalu dia masuk kelas, menyimpan tas di loker, dan membuka jaket.

Ketika jam pulang, dia mengenakan jaketnya lagi dan mengambil helmnya.

Itu menjadi suatu ritual, tidak hanya bagi Dinda, tetapi juga anak-anak lain yang diantar jemput dengan motor.

Saya mengamati, bila bersalaman dengan anak-anak pada jam pulang, sebagian dari mereka dengan gagah telah memakai jaket, bahkan kacamata pelindung, seperti Rossi yang siap tempur di arena balap!

Sungguh sebuah potret sosial yang menarik, yang mungkin tidak akan ditemui di era lain. Ketika motor menjadi kendaraan yang populer di Jakarta, maka bagi sebagian balita, motor adalah bagian dari kesehariannya.

Saya ingat, di pertengahan tahun ’90-an saya menjadi satu-satunya ibu di sekolah anak saya yang berlangganan ojek. Agak aneh di mata para orang tua murid yang hampir semua bermobil. Salah seorang ibu malah menasihati, “Hati-hati ya, anaknya naik motor.” Saya hanya tersenyum. Dalam hati saya berkata bahwa anak saya terlindung oleh doa saya, doa ibu, dan naik motor adalah hal terbaik yang dapat kami lakukan. Saya tidak bisa mengantar-jemput, dan sekolah itu tidak menyediakan sarana antar jemput ke rumah kami yang berbeda area, bahkan kota, dari sekolah itu, yang berlokasi di Cinere. Lagipula, saya tidak khawatir karena pengantarnya saya kenal baik dan jarak Ciganjur-Cinere cukup dekat untuk dicapai dengan motor dan tidak melewati jalan besar.

Lama setelah anak-anak saya meninggalkan sekolah itu, keadaan berubah. Motor menjadi kendaraan antarjemput yang populer di sekolah itu. Jejeran motor di depan sekolah milik tukang ojek, bahkan ibu-ibu yang mengantar jemput dengan motor adalah pemandangan sehari-hari di sana.

Tren motor mengandung hikmah, setidaknya di sekolah itu. Motor menjadi sebuah jembatan sosial, sarana yang mempertemukan dua kelas berbeda.

Di Tetum, kehadiran motor tidak mengubah apa pun, tetapi menjadi bagian dari perkembangan. Dengan motor, terjadilah suatu proses adaptasi: melengkapi anak dengan helm, jaket, dan kacamata sebagai alat pelindung, dan melakukan pembiasaan untuk menyimpan perlengkapan di tempat yang aman yang berujung pada kedisiplinan.

Satu Tanggapan

  1. Wah hebat ya Dinda dan Izzi! Kelihatannya seperti jagoan Ultraman siap melawan kejahatan didunia🙂.
    Waktu ikut jadi supirnya anak-anak di acara outbound ke Ragunan, saya sudah memperhatikan Dinda, karena walaupun badannya imut ukurannya, tapi nyali-nya besaaar…
    Mudah-mudahan murid Tetum jadi contoh ya buat para ortu di area sekitar sekolah, karena sering sekali saya prihatin melihat anak-anak naik motor tanpa pengaman, bahkan dengan posisi berdiri di motor yang membahayakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: