Tetum School Fair: Mencari SD yang Pas ….

“Dosa” terbesar Tetum adalah tidak memiliki SD. Apa boleh buat, satu-satunya cara adalah menjalin jejaring dengan pengelola-pengelola pendidikan yang memiliki SD. Dalam melakukan jejaring, kami juga berupaya mencari informasi mengenai “iklim” di SD, untuk memastikan bahwa anak-anak Tetum yang bersekolah di sana dapat menjalani transisi yang mulus.

Biasanya SD-SD swasta memberi ruang yang cukup untuk masa adaptasi dari TK ke SD, sehingga ketika jam sekolah usai, anak tidak meninggalkan gerbang sekolah dengan punggung yang sarat beban tuntutan dan rasa nyaman yang terkoyak.

Sayangnya hal itu harus dibayar mahal, dalam arti sesungguhnya. Biaya masuk SD swasta sekarang tidaklah sedikit. Saya masih ingat, pada waktu memasukkan anak sulung saya ke suatu sekolah swasta di pertengahan tahun ’90-an, saya memakai bonus akhir tahun. Saat itu saya baru berada di level koordinator saja. Saya membayangkan, seandainya saya sekarang berada di tahap karier sama dan anak sulung saya berusia 5 tahun, saya tidak akan mampu memasukkan anak ke sana dengan bonus tahunan, karena gaji saya tentu tidak sampai 7 digit.

Tapi, ada kok sekolah-sekolah yang tidak semahal sekolah itu, dan mereka punya persediaan kasih sayang yang cukup terhadap anak. Volume kasih sayang ini menjadi penting karena dari sinilah pangkal penghargaan suatu lembaga terhadap hak anak untuk tumbuh sesuai fitrah yang digariskan Tuhan.

Sekolah apa yang mengusung visi seperti itu? Setidaknya, kita lihat sendiri, mereka yang hadir pada Tetum School Fair. Cukup melegakan bahwa sekolah macam Citra Alam, Charitas, Cakra Buana dan Avicenna masih tetap memandang bahwa anak adalah anak, dan kelas 1 SD adalah peralihan dari masa balita ke kanak-kanak.

Sekolah Citra Alam lebih mementingkan pendidikan karakter di kelas 1-3 SD. Kewajiban baca tulis baru ditekankan di kelas 3 SD. Dengan cara itu mereka bisa mengantar anak-anak mereka untuk meraih UAN nilai terbaik di tahun ajaran yang lalu. Ya, ini sesuai dengan prinsip Tetum bahwa pendidikan bukan balap lari. Mereka yang mulai lebih dahulu, belum tentu akan menjadi pemenang!

Sekolah Charitas cukup heran bahwa anak-anak dari Tetum sudah bisa baca tulis. Komentar pengurus Charitas yang memberi sambutan pada acara Tetum School Fair ini cukup mengejutkan. Tetum memang tidak mengharuskan murid untuk bisa baca tulis, tapi kemampuan murid Tetum yang masuk ke sana justru mendapat apresiasi.

Sekolah Cakra Buana menunjukkan bahwa mereka memakai permainan dalam metode pengajaran untuk kelas 1 SD agar anak merasa nyaman dengan situasi baru.

Avicenna? “Enak deh sekolah di sana. Kita deket sama guru, pelajarannya asik,” itu kata Aisha kelas 6 SD Avicenna yang memberi penjelasan tentang sekolahnya. Testimoni seorang end user –tanpa pesan sponsor dari pengurus- sudah bicara segalanya.

Karena itu kami mengundang para orang tua alumni dan alumni untuk bercerita tentang pengalaman mereka menyekolahkan anak di sekolah dasar.

Ada yang bertanya, mengapa SD negeri tidak diundang? Ada beberapa pertimbangan tentu; salah satunya adalah SD negeri tidak menganggap acara ini penting karena murid yang datang ke mereka sudah membludak setiap tahun.

Kami hanya menyarankan bahwa apabila sekolah dasar negeri menjadi pilihan, jangan silau dengan predikat “percontohan” atau apalah. Mungkin sekolah negeri yang sederhana justru lebih baik, karena tidak terlalu menuntut anak. Saya punya kerabat seorang guru kelas 1 SD negeri yang dedikasi terhadap pekerjaan sangat mengagumkan. Dia selalu menyediakan waktu di luar jam sekolah untuk pelajaran tambahan, tanpa bayaran. Ibu guru ini berpandangan bahwa kelas 1 adalah masa adaptasi dari masa TK yang merupakan masa bermain. Dia malah tidak setuju bila anak TK dijejali dengan kegiatan akademik.

Pendapat bu guru ini berbeda dari sekolah di sebelahnya yang berpredikat percontohan. Ya, adakah yang perlu dicontoh dari sebuah sekolah bila gurunya –maaf—tidak beretika? Kami prihatin mendengar pengalaman salah satu orang tua murid saat datang ke sekolah itu untuk mencari informasi. Sekelompok guru, ketika tahu bahwa pencari informasi adalah orang tua dari Sekolah Tetum, langsung berkata lantang, “Sekolah Tetum akademisnya jelek.” Setelah berkata panjang lebar yang membuat ibu itu speechless, mereka mengetes si anak Tetum yang ikut ibunya berkunjung. “Bahasa Inggrisnya ibu apa?” tanya seorang guru. Jawab si anak, “Mommy.” Guru itu berkata lagi, “Ibu itu ‘mother’.” Si anak langsung berkata, “Ibu itu bisa ‘mommy’ bisa ‘mother’, kalau ayah bisa ‘daddy’ bisa ‘father’.” Para guru pun terdiam.

Jawaban si anak sudah menjelaskan lebih dari kemampuan akademis yang dimilikinya. Apa sih akademis itu? Apakah adil bila dalam menilai anak kita hanya memakai standar “calistung” saja? Dengan standar itu bagaimana kita bisa menilai kemampuan seorang anak yang lancar berbicara tentang isu pemanasan global, seperti Reza?

Saya pikir, isu yang muncul bukanlah masalah akademis, tapi arogansi kelembagaan yang melalaikan masalah etika.

Yah, semoga saja murid-murid Tetum bisa mendapatkan sekolah yang membuat mereka nyaman dan homy seperti ketika mereka balita.

img_1012.jpg Keluarga alumni, Akmal.

img_1014.jpg Orang tua yang hadir.

img_1018.jpg Reza presentasi tentang pemanasan global.

img_1034.jpgimg_1030.jpgimg_1027.jpgimg_1025.jpg 

Wawancara dengan alumni dan orang tua alumni

img_1036.jpg Kegiatan interaktif oleh Sekolah Cakra Buana.

img_1040.jpg img_1041.jpg Stan Avicenna dan Charitas.

img_1044.jpg img_1048.jpg Presentasi Sekolah Cakrabuana dan Avicenna

Satu Tanggapan

  1. Mohon Ijin copas. Thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: