Memasak dadar gulung

“Hmm … harum …,” kata Arya ketika mencium adonan dadar gulung. Wadah adonan berpindah dari satu tangan ke tangan lain, dan masing-masing agak menundukkan kepala untuk mencium aroma adonan.

“Baunya harum, soalnya pakai daun pandan,” kata Kak Ria, pemimpin kegiatan masak hari itu. “Tuh pohon daun pandannya ada di situ.” Kak Ria menunjuk salah satu sudut di sekolah.

Nah, kalimat terakhir itu menjadi pegangan bagi anak-anak ketika Kak Ria menjelaskan bahwa kulit dadar gulung diberi daun suji supaya nanti berwarna hijau: “Pohon daun suji di mana, Kak?” Hmm, cerdik juga pertanyaannya. Kak Ria langsung bisa menjawab, “Di Tetum tidak ada daun suji. Ini Kak Ria ambil dari rumah.”

Hari itu anak-anak mengaduk adonan, menggoreng kulit dadar gulung (khusus Kelas Antariksa, dan beberapa Kelas Langit), melipat kulit yang telah diisi unti, dan … mencicipinya. Hampir semua senang dadar gulung yang rasanya manis itu. Satu dua anak mengatakan akan membawa kue itu untuk Mama di rumah. Mungkin dia ingat Mama … mungkin juga itu cara untuk mengelak makanan yang tidak disukai. Diplomasi yang cerdas!

Oh ya sepanjang kegiatan itu mereka memakai topi koki yang mereka buat sendiri sebelum kegiatan. Mereka senang memakai topi itu, dan terus mereka pakai ketika pulang. Bahkan Diandra yang hari itu mengikuti ekskul bahasa Inggris, datang ke sekolah lagi dengan topi koki.

Ada kejadian lucu pada hari itu. Dua anak Kelas Laut, Hiko dan Reynard, tidak bisa duduk mengikuti kegiatan. Mereka terus berkejar-kejaran, diikuti Kak Aas. Suatu kali mereka lari di tengah barisan kakak-kakak kelasnya yang tengah duduk. Cukup mengejutkan, karena sedang asyik-asyiknya menyimak, tiba-tiba ada yang wuuuuttt lewat. Tapi Kelas Antariksa punya rasa humor yang tinggi rupanya. Mereka tersenyum dan berkata, “Iklan lewat.”

img_1073.jpg Membuat topi

img_1089.jpg Mengaduk adonan

img_1093.jpg Menggoreng juga

img_1102.jpg Sukakah dia?

img_1109.jpg Alma, Child of the Week, dan dadar gulung yang siap dilipat.

img_1116.jpg“Seperti bunga matahari,” komentar seorang anak.

Satu Tanggapan

  1. Saya baru ingat beberapa waktu yang lalu sepulang sekolah, andine membawa oleh-oleh sepotong kue dadar gulung untuk saya.
    Andine bilang, ini untuk mama hasil masakannya di sekolah, saya langsung memcicipi dan bilang ” Heeeemmm, enak sekali kue bikinan andine, rasanya “mak nyussss!!… andine tertawa gembira. Tapi pada saat saya minta andine untuk mencicipinya sedikit dia menolak dengan halus sambil berkata, aku tadi udah nyobain sedikit di sekolah ma… yang ini untuk mama aja… Saya tanya lagi, kok nyobain nya cuma sedikit? dia bilang iya, aku sengaja, biar mama bisa ngerasain kue bikinan ku…tapi,ternyata ujung2nya dia bilang, karena aku sebenarnya gak suka ma karena isi kuenya bukan susu seperti yang sering di buatkan oleh nyinyik (neneknya)……Oooooo begitu toh. Ternyata benar juga kata kak Endah, itu salah satu cara diplomatis seorang anak untuk menolak makanan ya dia tidak suka….ha ha ha… saya jadi harus banyak belajar dari pengalaman untuk hal yang satu ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: