Kenapa Foto Reza?

Pertanyaan menggelitik datang dari Aurora ketika melihat brosur Tetum, “Kenapa foto Reza semua sih?” Sungguh sebuah pertanyaan yang sulit dijawab. Brosur itu memang dibuat bukan untuk keperluan intern, tetapi untuk keperluan marketing. Mengingat Tetum bukanlah sebuah bisnis, tepatnya, brosur itu dibuat untuk kegiatan public relations. Ketika kami menjalin jejaring dengan sekolah-sekolah dasar, kami cukup memberikan brosur itu untuk menjelaskan visi dan misi kami.

Alih-alih menjabarkan visi dan misi dalam urutan 1, 2 dan 3 yang kaku, kami lebih suka menguraikannya dalam foto. Bagaimana pun, a picture is worth a thousand words. Foto tidak hanya menyampaikan pesan yang kasat mata, tetapi juga yang tidak kasat mata, yaitu kultur di Tetum.

Gambar anak bertangan kidal dan anak memakai hearing aid, cukup menggambarkan bagaimana kami menerima anak sebagaimana adanya dia. Gambar rambut Kak Aas yang kuyup ditumpahi air pada kegiatan Splish-Splash dapat menjelaskan bagaimana kerendahan hati guru terhadap anak. Gambar Senja membuat cap kaki menerangkan bagaimana Tetum melatih anak untuk mengenali tubuhnya. Gambar Dinda melepas sepatu menerangkan bagaimana Tetum mengajarkan keterampilan hidup. Gambar kegiatan panggung boneka yang memenuhi satu halaman brosur menjelaskan bagaimana kami mengusung kegiatan literasi lewat dongeng (yang berimplikasi bahwa pendekatan calistung semata adalah a BIG N0-NO di Tetum).

Lalu kenapa Reza? Dalam kegiatan marketing dan PR, perlu ada customer profile yang didasarkan pada data demografi dan perilaku. Untuk menjelaskan kepada Sekolah Dasar relasi kami dan calon orang tua murid yang datang ke Tetum, kami perlu visualisasi sosok yang tepat. Kebetulan pada kegiatan Hari Tokoh Idolaku, kami mendapat banyak foto yang baik untuk ditampilkan. Dari berbagai alternatif yang kami sodorkan, desainer memilih foto Reza karena matanya menggambarkan karakter yang kuat: seseorang yang berjiwa pemimpin (baca: mengenali dirinya).

Ya, dalam kegiatan sehari-hari, Reza memang mampu mengartikulasikan pemikirannya. Contohnya adalah dalam isu pemanasan global yang beberapa kali disiarkan di radio FeMale. Dan prestasi itu dicapai dalam proses yang wajar: percakapan sebelum tidur sambil melongok ke langit, obrolan di saat makan dan kegiatan bercanda sekeluarga. Bukan sebuah prestasi yang dicapai dengan berbagai les akademis.

Hal lain yang menarik, … dia tak berbeda dari anak lain. Dia sensitif, usil, dan masih dalam proses tumbuh kembang.

Jadi pemilihan Reza sebagai wakil student profile, bukan karena dia sempurna, tetapi karena dia seorang anak yang … just human, yang membuat kami belajar bagaimana berelasi dengan uniqueness yang dimiliki Reza.

Ya, setiap hari adalah proses belajar bagi kami, seperti halnya ketika harus menjelaskan konsep marketing kepada seorang Aurora.

collage17.jpg

2 Tanggapan

  1. protes itu yang pernah dilontarkan aurora ke saya, mau saya jawab secara diplomatis kayak kita nerangin ke orang dewasa. Dia belum bisa nerima. Saya bilang , kalo ingin berhasil dan kayak reza harus belajar. Malah dijawab ” aku sudah belajar, aku juga bisa kok. ” yah….lagi2 sayapun terdiam seperti kak endah yang terdiam. Bahkan dia pernah seharian marah-marah karna tidak dapat hadiah waktu diumumkan anak yang dapat penghargaan presentasi pada waktu wisuda tahun lalu. Katanya “aku juga bisa kok, kakak2 juga nggak protes dan ngasih komentar jelek. tapi kenapa aku dan yang lainnya nggak dihargai” katanya. Terus saya bilang ke kakak2 tetum waktu itu tentang protes aurora ini. Saya sebagai ortu sangat menghargai tetum. Anak yang berprestasi harus ada penghargaan untuk terus memacu prestasi. Tapi saya juga sadar punya anak yang suka protes en ngeyelan kayak aurora. Mungkin ini tahap perkembangan anak2 bahkan mungkin juga waktu kecil saya juga begitu. yah………..seneng juga sih. Untuk itu kalo ada protes2 dari aurora, saya hanya akan bilang yang sabar……………ya kak. usul lagi nih (banyakan usulnya) kalo ada pemberian hadiah atau penghargaan untuk yang terbaik,yang lainpun dikasih dong walaupun hanya pita atao apalah. jadi yang lainpun merasa berhasil. terutama merasa dihargai atas usahanya.trims

  2. […] Reza sebagai anak-anak, Sekolah Tetum memilihnya sebagai sosok yang mewakili profil muridnya untuk cover brosur sekolah tersebut. Di brosur ini ada tulisan: siapakah pemimpin di tahun 2040? […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: