Menggugat Stereotipe

Stereotipe terbentuk oleh persepsi, atau cara pandang kita terhadap sesuatu. Misalnya, jika melihat seorang anak lebih banyak tersenyum, berkata pelan, dan menatap tajam, maka kita memasukkannya dalam kategori “kalem”, atau “anak manis”.

Stereotipe tidak selalu benar, tentu. Contohnya saja, Andine dan Dinda yang biasanya lebih banyak menggunakan tatapan mata, senyuman di bibir dan bahasa tubuh. Hari itu mereka menggunakan motorik kasar mereka, dengan melompati besi dan bergabung bersama teman-teman di playset.

Ayo, Dinda, lompat!

Andine!

Satu Tanggapan

  1. Oh My God !! ( O M G !! ) Ternyata andine bisa juga memanjat pagar besi seperti itu, mungkin kalau saya ada di TKP sudah panik melihat dia memanjat…he he he.. Mungkin itu juga yang membuat andine selalu muram kalau sedang sakit dan tidak masuk sekolah. Dia benar-benar kehilangan masa2 ceria bersama teman-teman yang dia tidak bisa dapatkan di rumah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: