Aku mau jadi wartawan!

“Selamat siang, saya dari majalah X, nih. Boleh saya wawancara anak-anak, Kak Wiwik,” tanya saya di depan Kelas Antariksa.

“Oh, boleh,” kata Kak Wiwik. “Adik-adik, kita ada tamu wartawan nih. Mau tidak diwawancara dan belajar jadi wartawan?”

Anak-anak menengok ke arah saya, seolah antara percaya dan tidak. Tapi mereka berteriak, “Mauuuuu! Tapi jangan di dalam kelas.”

Kami pun berjalan ke kolam kering. Yang laki-laki menghambur mendahului, sedangkan yang perempuan berjalan bersisian dengan saya, dan ada yang menggandeng tangan saya.

Kami duduk berkeliling di pinggiran kolam kering, di bawah lindungan pohon ceri. Sesi pengenalan pada jurnalistik pun dimulai. Sebuah kegiatan yang saya mulai sejak pagi-pagi buta, dengan mencari kartu pers, foto-foto saat meliput, dan tulisan-tulisan yang pernah dimuat di majalah. Dengan perangkat itu, saya pun bisa membawa anak-anak ke dunia kewartawanan. Mereka cukup antusias karena bisa memegang tape recorder, membawa kamera, dan memakai kartu identitas wartawan.

Kania sebetulnya jadi wartawan (lihat ID card di dadanya), tetapi tiba-tiba dia ingin diwawancara sebagai penyanyi.

Ali memegang tape jadi wartawan, Arya jadi jurufoto, Dinda dan Andine jadi selebriti.

Senangnya jadi wartawan.

Daffa waktu diwawancara … seperti public figure beneran.

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: